BAB
I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Sebuah
paragraf (dari Bahasa Yunani paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis
di samping”) adalah suatu jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide. Awal
paragraf ditandai dengan masuknya ke baris baru. Terkadang baris pertama
dimasukkan; kadang-kadang dimasukkan tanpa memulai baris baru. Dalam beberapa hal
awal paragraf telah ditandai oleh pilcrow (¶).
Sebuah
paragraf biasanya terdiri dari pikiran, gagasan, atau ide pokok yang dibantu
dengan kalimat pendukung. Paragraf
non-fiksi biasanya dimulai dengan umum dan bergerak lebih spesifik sehingga
dapat memunculkan argumen atau sudut pandang. Setiap paragraf berawal dari apa
yang datang sebelumnya dan berhenti untuk dilanjutkan. Paragraf umumnya terdiri
dari tiga hingga tujuh kalimat semuanya tergabung dalam pernyataan berparagraf
tunggal. Dalam fiksi prosa, contohnya; tapi hal ini umum bila paragraf prosa
terjadi di tengah atau di akhir. Sebuah paragraf dapat sependek satu kata atau
berhalaman-halaman, dan dapat terdiri dari satu atau banyak kalimat. Ketika
dialog dikutip dalam fiksi, paragraf baru digunakan setiap kali orang yang
dikutip berganti.
I. Pengertian Paragraf
Paragraf disebut juga alinea. Kata paragraf
diserap dalam bahasa Indoensia dari bahasa Inggris paragraph,
sedangkan alinea diserap dari bahasa Belanda dengan ejaan yang sama. Kata alenia bahasa Belanda itu sendiri berasal dari
bahasa latina lenia yang
berarti ‘mulai dari baris baru’. Adapun bahasa Inggris paragraph berasal
dari bahasa Yunani para yang
berarti ‘sebelum’ dan grafein yang
berarti ‘menulis; menggores’. Pada mulanya paragraf atau alenia tidak
dituliskan terpisah dengan mulai garis baru seperti yang kita kenal sekarang,
tetapi dituliskan menyatu dalam sebuah teks dengan menggunakan tanda sebagai
ciri awal paragraf (Sakri 1992:1).
Dalam
kenyataannya kadang-kadang kita menemukan alinea yang hanya terdiri atas satu
kalimat, dan hal itu memang dimungkinkan. Namun, dalam pembahasan ini wujud
alinea semacam itu dianggap sebagai pengecualian karena disamping bentuknya
yang kurang ideal jika ditinjau dari segi komposisi, alinea semacam itu jarang
dipakai dalam tulisan ilmiah. Paragraf diperlukan untuk mengungkapkan ide yang
lebih luas dari sudut pandang komposisi, pembicaraan tentang paragraf
sebenarnya ssudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab formal yang
sederhana boeh saja hanya terdiri dari satu paragraf. Jadi, tanpa kemampuan
menyusun paragraf, tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.
BAB II
ISI
I. Batasan Paragraf
a.
Satuan
bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat (Finoza,2005:165)
b.
Bagian
karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat yang berhubung-hubunan secara utuh
dan padu serta merupakan satu kesatuan pikiran (Soedjito,1994:3)
2. Struktur Paragraf
Mendapatkan banyaknya unsur dan
urutan unsur yang pembangun paragraf, struktur paragraf dapat dikelompokkan
menjadi delapan kemungkinan, yaitu :
1. Paragraf
terdiri atas transisi kalimat, kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat
penegas.
2. Paragraf
terdiri atas transisi berupa kata, kalimat topik, kalimat pengembang, dan
kalimat penegas.
3.
Parazraf
terdiri atas kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat peneges.
4.
Paragraf
terdiri atas transisi berupa kata, kalimat topik, dan kalimat pengembang.
5.
Paragraf
terdiri atas transisi berupa kalimat, kalimat topik, kalimat pengembang.
6.
Paragraf
terdiri atas kalimat topik dan katimat pengembang.
7.
Paragraf
terdiri atas kalimat pengembang dan katimat topik.
3. Persyaratan Paragraf Yang Baik
perlu
kita ketahui agar memudahkan kita membuat sebuah paragraf yang baik dan benar.
Syarat yang dibutuhkan juga tidak terlalu susah untuk dipenuhi yaitu
a. Kesatuan
Syarat kesatuan
paragraf terpeuhi jika suatu kalimat dalam paragraf saling berhubungan dengan
gagasan atau ide pokok paragraf. Jika kalimat-kalimat yang ada dalam paragraf
saling berhubungan dan saling mendukung dalam pemaparan ide pokok paragraf,
maka paragraf tersebut dapat dikatakan memiliki kesatuan gagasan. Jika
kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf tidak saling berhubungan dan tidak
mendukung dalam pemaparan ide pokok paragraf, maka paragraf tersebut tidak
memiliki kesatuan gagasan.
b. Kelengkapan
Paragraf yang
lengkap adalah paragraf yang didukung oleh kalimat-kalimat penjelas yang cukup
untuk menunjang kalimat topik. Paragraf yang baik memiliki kalimat topik dan
kalimat penjelas. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi ide pokok, sedang
kalimat penjelas adalah kalimat yang berisi rincian ide pokok. Kalimat yang
hanya terdiri atas satu kalimat topik saja dikatakan paragraf yang belum
lengkap. Ide pokok dan ide-ide penjelas dalam paragraf yang baik ditata secara
sistematis. Penggunaan ide dalam suatu paragraf dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu secara alamiah dan secara logis. Urutan alamiah berupa urutan waktu
(kronologis), dan ruang (sudut pandang), sedang urutan logis berupa urutan
klimaks-antiklimaks, sebab-akibat, umum-khusus, khusus-umum, pokok-rincian,
dikenal-tidak dikenal, dan mudah-sulit. Ide penjelas dalam paragraf dapat
berupa contoh, ilustrasi, rincian konkret, perbandingan, uraian, alasan,
fakta/data, dan analog.
c. Kepaduan
Paragraf yang
baik harus memiliki kepadan (kohesi dan koherensi). Kepaduan yang dimaksud
adalah adanya rangkaian antarkalimat yang memudahkan pembacauntuk memahammi
isinya. Kalimat-kalimat yang membentuk paragraf saling terkait antara yang satu
dengan yang lain. Kepaduan dalam sebuah paragraf dibangun dengan memperhatikan
beberapa hal, di antaranya pengulangan kata kunci, pengulangan kata ganti,
penggunaan transisi, dan paralelisme.
4. Pola Pengembangan Paragraf
Paragraf
akan baik jika ide pokok dikembangkan secara lengkap dan dipahami. Pengembangan
paragraf dilakukan untuk merinci secara cermat gagasan utama yang terkandung
dalam kalimat topik. Dalam perincian itu terangkai sejumlah informasi yang
terhimpun menurut kerangka dan tahapan tertentu. Dengan menuliskannya dalam
kalimat-kalimat penjelas, informasi itu disampaikan secara logis, dijalin
secara berurutan, dan ditautkan secara tertib. Untuk itu, dibuatlah berbagai
pola pengembangan paragraf.
Ada tiga teknik pengembangan paragraf :
a. Secara alami
Pengembangan paragraf secara alami
berdasarkan urutan ruang dan waktu. Urutan ruang merupakan urutan yang akan
membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya dalam suatu ruang. Urutan
waktu adalah urutan yang menggambarkan urutan tedadinya peristiwa, perbuatan,
atau tindakan.
b. Klimaks dan Antiklimaks
Pengembangan paragraf teknik ini
berdasarkan posisi tertentu dalam suatu rangkaian berupa posisi yang tertinggi
atau paling menojol. Jika posisi yang tertinggi itu diletakkan pads bagian
akhir disebut klimaks. Sebaliknya, jika penulis mengawali rangkaian dengan
posisi paling menonjol kemudian makin lama makin tidak menonjol disebut
antiklimaks.
c. Umum Khusus dan Khusus Umum
Dalam bentuk Umum ke khusus utama diletakkan di
awal paragraf, disebut paragraf deduktif. Dalam bentuk khusus-umum, gagasan
utama diletakkan di akhir paragraf, disebut paragraf induktif.
5. Jenis Paragraf
Adapun jenis –jenis Paragraf
yaitu:
A.
Eksposisi
Berisi uraian atau
penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi.
Contoh: Para pedagang daging sapi di
pasar-pasar tradisional mengeluhkan
dampak pemberitaan mengenai impor daging ilegal. Sebab, hampir seminggu
terakhir mereka kehilangan pembeli sampai 70 persen. Sebaliknya, permintaan
terhadap daging ayam dan telur kini melejit sehingga harganya meningkat
B.
Argumentasi
Bertujuan membuktikan
kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan
data/
fakta konsep sebagai alasan/ bukti.
Contoh:
Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga.
Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga.
C.
Deskripsi
Berisi gambaran
mengenai
suatu hal
atau keadaan sehingga pembaca
seolah-olah
melihat, merasa atau mendengar hal tersebut
Contoh:
Gadis itu menatap Doni dengan seksama. Hati Doni semakin gencar memuji gadis yang mempesona di hadapanya. Ya, karena memang gadis didepannya itu sangat cantik. Rambutnya hitam lurus hingga melewati garis pinggang. Matanya bersinar lembut dan begitu dalam, memberikan pijar mengesankan yang misterius. Ditambah kulitnya yang bersih, dagu lancip yang menawan,serta bibir berbelah, dia sungguh tampak sempurna.
Gadis itu menatap Doni dengan seksama. Hati Doni semakin gencar memuji gadis yang mempesona di hadapanya. Ya, karena memang gadis didepannya itu sangat cantik. Rambutnya hitam lurus hingga melewati garis pinggang. Matanya bersinar lembut dan begitu dalam, memberikan pijar mengesankan yang misterius. Ditambah kulitnya yang bersih, dagu lancip yang menawan,serta bibir berbelah, dia sungguh tampak sempurna.
D.
Persuasi
Karangan
ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu.
Contoh:
Dalam
diri setiap bangsa Indonesia harus tertanam nilai cinta terhadap sesama manusia sebagai cerminan rasa kemanusiaan
dan keadilan. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah mengakui dan memperlakukan manusia
sesuai dengan harkat dan martabatnya,mengembangkan sikap tenggang rasa dan
nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai
sesama
anggotamasyarakat, kita harus mengembangkan sikap tolong-menolong dan saling
mencintai.Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat dipenuhi oleh suasana
kemanusian dan saling mencintai.
E.
Narasi
Karangan
ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur
cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.
Contoh:
Jam istirahat. Roy tengah menulis sesuatu di buku agenda sambil menikmati bekal dari rumah. Sesekali kepalanya menengadah ke langit-langit perpustakaan, mengernyitakan kening,tersenyum dan kembali menulis. Asyik sekali,seakan diruang perpustakaan hanya ada dia.
Contoh:
Jam istirahat. Roy tengah menulis sesuatu di buku agenda sambil menikmati bekal dari rumah. Sesekali kepalanya menengadah ke langit-langit perpustakaan, mengernyitakan kening,tersenyum dan kembali menulis. Asyik sekali,seakan diruang perpustakaan hanya ada dia.
6. Mengembangkan Kalimat Topik Menjadi
Paragraf
Mengarang adalah mengembangkan beberapa
kalimat topik. Dalam karangan itu kita harus mengembangkan paragraf demi
paragraf. Oleh karena itu, kita harus dapat menempatkan kalimat topik. Satu
paragraf hanya mengandung satu kalimat topik. Contoh di bawah ini menunjukkan
perbedaan paragraf yang tidak hemat akan kalimat topik. Paragraf yang tidak
hemat ini mengandung tiga buah kalimat topik.
“Penggemar seruling buatan Frederick Morgan bersedia
menunggu lima belas tahun asal memperoleh seruling buatan Morgan. Pertengahan
bulan Juli Morgan menghentikan pemesanan seruling karena terlalu banyak pihak
yang telah memesan seruling buatannya. Memang dewasa ini Morgan tergolong
pembuat instrumen tiup kelas dunia.
Perhatikan paragraf berikut yang
merupakan pengembangan kalimat-kalimat topik di atas.
Penggemar seruling buatan Frederick
Morgan bersedia menunggu lima belas tahun asal memperoleh seruling buatan
Morgan. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh beberapa penggemar seruling Eropa.
Hal ini terjadi setelah Morgan mengemukakan bahwa pemesanan serulingnya
ditutup.
Pada
pertengahan bulan Juli Morgan menghentikan pemesanan seruling karena terlalu
banyak pihak yang telah memesan seruling buatannya. Jika dibuat terus menerus,
Morgan harus bekerja selama empat belas tahun guna memenuhi pesanan tersebut.
Seruling buatan Morgan sangat berperan pada musik di dunia Eropa sejak tahun
1950.
Dewasa
ini Morgan tergolong ahli pembuat instrumen tiup kelas dunia. Beberapa ahli
lainnya adalah Hans Caolsma (Utreacth), Mortin Skovroneck (Bremen), Frederick
van Huene (Amerika Serikat), Klaus Scheel (Jerman), serta Sighoru Yamaoka dan
Kuito Kinoshito (Jepang). (Dikutip dari Arifin 1988:138)”.
Kalau
kita amati, ternyata paragraf-paragraf yang terakhir lebih “berbicara” daripada
paragraf sebelumnya yang mengandung tiga buah kalimat topik. Paragraf terakhir
hemat akan kalimat topik, tetapi kreatif akan kalimat-kalimat penjelas.
BAB III
PENUTUP
I.
Kesimpulan
Adapun paragraf berfungsi untuk memudahkan
pembaca dalam mengikuti jalan pikiran penulis. Pada prinsipnya cara membuat
paragraf adalah dengan menyusun kerangka penulisan sampai sedetil-detilnya agar
memudahkan penjelasan dan menghindarkan dari penjelasan yang berulang-ulang.
Dalam karang-mengarang atau tulis-menulis,
dituntut beberapa kemampuan antara lain kemampuan yang berhubungan dengan
kebahasaan dan kemampuan pengembangan atau penyajian. Yang termasuk kemampuan
kebahasaan adalah kemampuan menerapkan ejaan, pungtuasi, kosa kata, diksi, dan
kalimat. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan pengembangan ialah kemampuan
menata paragraf, kemampuan membedakan pokok bahasan, subpokok bahasan, dan
kemampuan membagi pokok bahasan dalam urutan yang sistematik.
0 comments:
Posting Komentar