Nama : Ira Yohana Simamora
Mahasiswa: Unimed ( akuntansi)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATARBELAKANG
Akun
persediaan merupakan akun yang kompleks dan memerlukan pengendalian yang kuat
karena persediaan adalah bagian yang utama dalam neraca dan sering kali
merupakan perkiraan yang terbesar yang melibatkan modal kerja. Selain itu
persediaan juga sering tersebar di beberapa lokasi yang menyulitkan perhitungan
fisik. Untuk penilaian juga sulit karena keusangan dan perlunya
mengalokasikan biaya manufaktur ke dalam persediaan. Audit Persediaan adalah
merupakan bagian dari aset perusahaan yang pada umumnya nilainya cukup material
dan rawan oleh tindakan pencurian ataupun penyalahgunaan. Oleh karena itu,
biasanya akun persediaan menjadi salah satu perhatian utama auditor dalam
pemeriksaan atas laporan keuangan perusahaan.
Semakin
berkembangnya suatu perusahaan menuntut pula perkembangan di bidang
pemeriksaan. Pemeriksaan yang di lakukan tidak hanya pemeriksaan keuangan saja
tetapi juga pemeriksaan yang menekankan penilaian sistematis dan objektif serta
berorientasi pada tujuan untuk memperoleh keyakinan tentang keaktifan dan
memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang di periksa. Pada
sebuah perusahaan dagang salah satu informasi yangb disajikan dalam laporan
keuangan adalah nilai persediaan barang dagangan yaitu persediaan barang yang
di miliki dengan tujuan utama untuk di jual dalam rangka kegiatan normal
perusahaan.
Secara intern,
kesalahan penyajian nilai persediaan barang dagang dapat menimbulkan kesalahan
pengambilan keputusan produksi. Kegiatan pemasaran dan bahan pembelanjaan
perusahaan. Bagi pihak ekstern, kesalahan tersebut dapat memberikan informasi
yang menyesatkan mengenai profitabilitas dan bahkan kemampuan perusahaan untuk
dapat menyelesaikan kewajiban-kewajiban keuangan.
Oleh karena
itu untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak akan informasi akuntansi mengenai
persediaan barang dagang dibutuhkan pengujian kesusaian antara praktek
akuntansi persediaan barang dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Proses
pengujian tersebut di kenal dengan istilah Auditing yang di lakukan oleh
akuntan publik sebagai pihak yang indipenden dari penyelenggaraan kegiatan,
pemilikan dan hubungan baik lainnya dengan organisasi perusahaan yang dapat
mempengaruhi indipenden tersebut.
B.
RUMUSAN MASALAH
Beranjak dari latar belakang
diatas, tentunya akan memiliki rumusan masalah yang ada, adapun rumusan masalah
dari pembuatan makalah ini antara lain :
1.
Jelaskan Apa itu Audit Persediaan?
2.
Bagaimana sifat-sifat Persediaan?
3.
Apa tujuan dari Audit Persediaan?
4.
Bagaimana prosedur Audit Persediaan?
C.
TUJUAN MAKALAH
Tujuan dari
penyusunan makalah ini adalah untuk melengkapi Tugas Mata Kuliah Pemeriksaan
Akuntansi II. Selain melengkapi Tugas Mata Kuliah Pemeriksaan Akuntansi II, makalah ini dibuat untuk ;
Mengetahui Apa itu sebenarnya Audit Persediaan, Bagaimana Sifat-sifat dari
Persediaan, Tujuan dari Audit Persediaan dan Prosedur dari Audit Persediaan.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
AUDIT PERSEDIAAN
Audit Persediaan adalah merupakan bagian dari aset perusahaan
yang pada umumnya nilainya cukup material dan rawan oleh tindakan pencurian
ataupun penyalahgunaan. Oleh karena itu, biasanya akun persediaan menjadi salah
satu perhatian utama auditor dalam pemeriksaan atas laporan keuangan
perusahaan. Menurut Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK No.14, hal 14.1 s/d 14.2 & 14.9 – IAI, 2002,
persediaan adalah aktiva:
- yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
- dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau
- dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses atau pemberian jasa.
Persediaan
meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya barang
dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan
properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakup barang jadi
yang telah diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi
perusahaan, dan termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam
proses produksi.
Biaya
persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain
yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk
dijual atau dipakai.
Persediaan
harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi, mana yang lebih rendah (the
lower ofcost and net realiable value)
2.
SIFAT-SIFAT PERSEDIAAN
Persediaan (Inventory) adalah
elemen atau unsur yang sangat penting dalam perusahaan terutama dalam
penentuaan harga pokok penjualan pada perusahaan dagang ataupun perusahaan
manufaktur baik yang berskala kecil maupun berskala besar, yang
berfungsi untuk Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang, Menghilangkan
resiko hilangnya barang, Mempertahankan stabilitas operasional
perusahaan., Untuk mencapai penggunaan mesin yang optimal, Memberikan
pelayanan yang sebaik-baiknya kepada konsumen.. Persediaan mempunyai
sifat–sifat sebagai berikut :
a.
Persediaan biasanya merupakan sebagai
aktiva lancar (Current Asset) karena
masa perputarannya hanya kurang atau sama dengan satu tahun saja.
b.
Persediaan merupakan jumlah yang besar
terutama untuk perusahaan yang mengelola persediaan dari bahan baku menjadi
barang jadi.
c.
Mempunyai pengaruh yang besar terhadap
neraca dan perhitungan laba rugi bagi perusahaan selain itu juga sangat
menentukan perusahaan pada akhir periode akuntansi.
Contoh dari perkiraan-perkiraan yang
biasa digolongkan sebagai persediaan adalah:
- Bahan baku {raw materials)
- Barang dalam proses (work in process)
- Barang jadi (finished goods)
- Suku cadang (spare-parts)
- Bahan pembantu: olie, bensin, solar
- Barang dalam perjalanan (goods in transit), yaitu barang yang sudah dikirim oleh Supplier tetapi belum sampai di gudang perusahaan.
- Barang konsinyasi: consignment out (barang perusahaan yang dititip jual pada perusahaan lain). Sedangkan consignment in (barang perusahaan lain yang dititip jual di perusahaan) tidak boleh dilaporkan/dicatat sebagai persediaan perusahaan.
3.
TUJUAN AUDIT PERSEDIAAN
Adapun tujuan
utama pemeriksaan persediaan adalah untuk menentukan bahwa :
- Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas persediaan,
- Untuk memeriksa apakah persediaan yang tercantum di neraca betul-betul ada dan dimiliki oleh perusahaan pada tanggal neraca.
- Untuk memeriksa apakah metode penilaian persediaan (valuation) sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan.
- untuk memeriksa apakah sistem pencatatan persediaan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
- Untuk memeriksa apakah terhadap barang-barang yang rusak (defective), bergerak lambat (s/ow moving) dan ketinggalan mode (absolescence) sudah dibuatkan allowance yang cukup.
- Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan jaminan kredit.
- Untuk mengetahui apakah persediaan diasuransikan dengan nilai pertanggungan yang cukup.
- Untuk mengetahui apakah ada perjanjian pembelian/penjualan persediaan (purchasel sales commitment) yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap laporan keuangan,
- Untuk memeriksa apakah penyajian persediaan dalam laporan keuangan sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
Walaupun
tujuan-tujuan audit yang disebutkan di atas diarahkan terutama atas eksistensi
dan valuasi persediaan dalam neraca, tetapi auditor harus selalu ingat bahwa
audit terhadap akun persediaan yang dilakukannya harus berhubungan dengan harga
pokok penjualan dan akun-akun terkait lainnya dalam laporan laba rugi.
4. PROSEDUR AUDIT PERSEDIAAN
Prosedur
pemeriksaan dibagi atas prosedur compliance test, analytical review dan
substantive test. Dalam praktiknya, prosedur pemeriksaan yang dibahas di
sini harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan yang diaudit.
Prosedur
pemeriksaan persediaan mencakup pembelian, penyimpanan, pemakaian dan penjualan
persediaan, karena berkaitan dengan siklus pembelian, utang dan pengeluaran kas
serta siklus penjualan, piutang dan penerimaan kas.
Prosedur
pemeriksaan untuk compliance test.
- Pelajari dan evaluasi internal control atas persediaan.
- Dalam hal ini auditor biasanya menggunakan internal control questionnaires, yang contohnya bisa dilihatdi Exhibit 11-1.
- Lakukan test transaksi (compliance test} atas pembelian dengan menggunakan purchase order sebagai sample. Untuk test transaksi atas pemakaian persediaan (bahan baku) bisa digunakan material requisition sebagai sample. Untuk test transaksi atas penjualan, bisa digunakan faktur penjualan sebagai sample.
- Tarik kesimpulan mengenai infernal control atas persediaan.
Jika
dari test transaksi auditor tidak menemukan kesalahan yang berarti, maka
auditor bisa menyimpulkan bahwa inte rnal control atas persediaan
berjalan efektif. Karena itu substantive test atas persediaan bisa
dipersempit.
Prosedur
pemeriksaan substantive atas persediaan.’
- Lakukan observasi atas stock opname (perhitungan phisik) yang dilakukan perusahaan (klien).
- Minta Final Inventory List [Inventory Compilation) dan lakukan prosedur pemeriksaan berikut ini:
- check mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian).
- cocokkan “quantity per book” dengan stock card.
- cocokkan “quantity per count dengan “count sheet kita (auditor)
- cocokkan “total value” dengan buku besar persediaan.
- Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out.
- Periksa unit price dari raw material (bahan baku), work in process (barang dalam proses), finished goods (barang jadi) dan supplies (bahan pembantu).
- Lakukan rekonsiliasi jika stock opname dilakukan beberapa waktu sebelum atau sesudah tanggal neraca.
- Periksa cukup tidaknya allowance for slow moving (barang-barang yang bergerak lambat), barang-barang yang rusak dan barang-barang yang ketinggalan mode.
- Periksa kejadian sesudah tanggal neraca (subsequent event).
- Periksa cut-off penjualan dan cut-off pembehan.
- Periksa jawaban konfirmasi dari bank, loan agreement (perjanjian kredit), notulen rapat,
- Periksa apakah ada sates atau purchase commitment per tanggal neraca.
- Seandainya ada barang dalam perjalanan (goods in transit), lakukan prosedur berikut ini:
- minta rincian goods in transit per tanggal neraca.
- periksa mathematical accuracy,
- periksa subsequent clearance.
- Buat kesimpulan dari hasil pemeriksaan persediaan dan buat usulan adjustment jika diperlukan.
- Periksa apakah penyajian persediaan di laporan keuangan sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
5. TAHAP-TAHAP AUDIT PERSEDIAAN
Beberapa tahapan prosedur audit
yang harus dilakukan auditor dalam melakukan pemeriksaan atas akun persediaan
diantaranya adalah :
1. Pemahaman Bisnis Klien –
kecukupan pemahaman atas bisnis perusahaan merupakan dasar terhadap audit
persediaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh auditor melalui Kuesioner
Pemahaman Bisnis dan Jenis Usaha Klien akan memberikan auditor pemahaman
mengenai aspek-aspek unik dari bisnis dan jenis usaha, seperti faktor musiman
dan siklus, sifat dari keuangan, metode dan kebijaksanaan penjualan, kondisi
persaingan usaha, bahan baku dan sumbernya, tenaga kerja dan fasilitas pabrik
yang berkaitan dengan kebijaksanaan operasi perusahaan serta karakteristik
sistim informasi termasuk metode costing. Pemahaman ini memungkinkan auditor
untuk mencapai kesimpulan mengenai aspek-aspek laporan keuangan sehubungan
dengan persediaan.
2. Penilaian Pengendalian Intern
– tujuan pengendalian intern atas persediaan adalah untuk meyakinkan bahwa (a)
adanya pengendalian yang memadai terhadap mutasi persediaan, (b) semua
transaksi persediaan telah dicatat dan diklasifikasikan dengan tepat, (c)
penghitungan fisik persediaan telah dijalankan sesuai dengan prosedur yang
telah ditetapkan, (d) harga perolehan persediaan telah ditentukan dengan tepat,
(e) penyesuaian atas persediaan yang bergerak lambat (slow moving), usang dan
rusak telah dilakukan dengan tepat.
3. Pengujian Substantif – tujuan
utama pengujian substantif terhadap persediaan adalah untuk memberikan bukti
nyata dari keberadaan dan penilaian persediaan. Pengujian ini meliputi
observasi dan pengujian penghitungan fisik (stock taking), pengujian ringkasan
dan pengujian harga
6.PEMERIKSAAN SIKLUS
PERSEDIAAN
Persediaan terdiri dari berbagai
bentuk yang berbeda, tergantung pada sifat kegiatan usaha. Audit atas persedian
sering kali merupakan bagian audit yang rumit dan memakan banyak waktu, karena:
a.
Pada umunya persdiaan merupakan jenis perkiraan yang besar di dalam neraca, dan
sering merupakan unsur terbesar dari keseluruhan modal kerja (working capital
account)
b.
Persediaan berada pada lokasi yang berbeda, yang menyulitkan pengendalian
secara fisik serta penghitungannya
c.
Keanekaragaman jenis persediaan menyebabkan berbagai kesulitan bagi auditor
d.
Penilaian atas persediaan juga selalu menyulitkan karena adanya faktor keuangan
dan kebutuhan untuk mengalokasikan biaya-biaya pabrik ke dalam persediaan
e.
Adanya beberapa metode penilaian persediaan yang dapat digunakan, tapi setiap
klien tertentu harus menggunakan satu metode secara konsisten dari tahun ke
tahun
Sifat dasar
audit atas siklus persediaan adalah eratnya hubungan siklus ini dengan
siklus-siklus transaksi lain di dalam organisasi tersebut. Hubunganya dengan
siklus perolehan dan pembayaran serta siklus penggajian dan personalia dilihat
dari pendebitan-pendebitan ke dalam perkiraan bahan baku, tenaga kerja langsung
(direct labour), dan overhead pabrik (manufacturing overhead) dalam bentuk-T.
Hubungannya dengan sikluspenjualan dan penagihan dapat dilihat dari pengurangan
barang jadi dan pembebanan ke harga pokok penjualan.
6.1 FUNGSI BISNIS DALAM SIKLUS PERSEDIAAN DAN DOKUMEN TERKAIT
1. Mengolah Order Pembelian
Setiap
permintaan pembelian (purchase requisition) digunakan untuk meminta bagian
pembelian membuat order atas persediaan. Permintaan dapat diajukan oleh
karyawan bagian gudang penyimpanan jika persediaan telah dalam jumlah untuk
memesan kembali atau untuk memenuhi pesanan khusus.
2. Menerima Bahan yang Baru
Setiap bahan
yang diterima harus diperiksa jumlah dan kualitasnya. Bagian penerimaan barang
membuat laporan penerimaan barang yang menjadi bagian dari dokumen penting
sebelum pelunasan dilakukan.
3. Menyimpan Bahan Baku
Bahan-bahan
yang disimpan di gudang dikeluarkan dari gudang ke bagian produksisetelah
adanya penyerahan permintaan bahan yang disetujuisebagaimana mestinya, order
pekerjaan, atau dokumen sejenisnya yang menunjukkan jenis dan jumlah unit bahan
yang dibutuhkan.
4. Mengolah Barang
Penentuan
jenis dan jumlah barang yang akan diproduksi pada umumnya didasarkan pada
order-order spesifik dari langganan, ramalan penjualan (sales forecast),
tingkat persediaan barang jadi yang telah ditetapkan sebelumnya, dan
pelaksanaan kegiatan produksi yang ekonomis.
5. Menyimpan Barang Jadi
Dalam
perusahaan dengan pengendalian intern yang baik, barang jadi disimpan di tempat
terpisah dengan akses yang terbatas, di bawah pengendalian secara fisik.
Pengendalian barang jadi sering dipandang sebagai bagian dari siklus penjualan
dan penagihan.
6. Mengirim Barang jadi
Sebagai bagian
integral dari siklus penjualan dan penagihan, setiap pengiriman atau transfer
harus diotorisasi melalui dokumen pengiriman. Tujuan menyeluruh dari audit atas
persediaan adalah untuk menetapakan bahwa bahan baku, barang dalam proses,
barang jadi, dan harga pokok penjualan
telah dinyatakan secara wajar di dalam laporan keuangan.
Ada 4 aspek yang menjadi perhatian auditor
dalam menetapkan jenis pengujian yang akan dilakukan yaitu :
1. Pengendalian fisik terhadap persediaan
Pengujian auditor mengenai kecukupan pengendalian
fisik terhadap bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi harus terbatas
pada pengamatan dan penyelidikan.
2. Dokumen-dokumen dan catatan untuk
transfer persediaan
Perhatian utama auditor dalam verifikasi transfer
persediaan dari satu lokasi ke lokasi yang lain adalah bahwa transfer yang
dicatat adalah sah, transfer yang benar-benar terjadi telah dicatat, dan
kuantitas, uraian serta tanggal dari setiap transfer yang dicatat tersebut
adalah akurat.
3. Catatan perpetual
Terdapatnya catatan
persediaan perpetual yang memadai berpengaruh terhadap waktu dan luas
pemeriksaan fisik yang dilakukan auditor atas persediaan. Jika catatan
perpetual dapat diandalkan, memungkinkan untuk menguji persediaan fisik sebelum
tanggal neraca, penghematan biaya bagi auditor maupun klien dan memungkinkan
klien memperoleh laporan keuangan yang diaudit lebih awal.
4.Catatan mengenai biaya per unit
Catatan akuntansi
biaya yang memadai harus dipadukan dengan kegiatan produksi dan catatan
akuntansi lain agar dapat menghasilkan biaya yang akurat untuk semua hasil
produksi. Sistem akuntansi biaya mempunyai hubungan dengan auditor karena
penilaian persediaan akhir tergantung pada perancangan dan penggunaan sistem
yang tepat. Pengujian rincian saldo untuk persediaan terdiri dari:
1. Menilai materialitas
dan risiko inheren dari persediaan
2. Menilai risiko
pengendalian untuk beberapa siklus
3. Merancang dan
melaksanakan pengujian pengendalian, pengujian substantif atas transaksi dan
prosedur analitis untuk beberapa siklus
4. Merancang dan
melaksanakan prosedur analitis untuk saldo persediaan
5. Merancang pengujian
rincian saldo persediaan untuk memenuhi tujuan-tujuan audit yang spesifik
seperti : prosedur audit, besar sampel, item yang dipilih, dan waktu audit
Hasil pengujian dari beberapa siklus selain
siklus persediaan dan pergudangan akan mempengaruhi pengujian rincian atas
saldo-saldo persediaan. Dua aspek pengujian rincian saldo secara terpisah yaitu
:
a.
Observasi
Fisik
Penting bagi auditor independen untuk
hadir pada saat penghitungan dan observasi, pengujian dan tanya jawab yang
sesuai untuk mengetahui keefektifan metode penghitungan persediaan (inventory
taking) dan ukuran (tingkat) keandalan yang mungkin diberikan pada pernyataan
klien mengenai kuantitas dan kondisi fisik persediaan. Klien bertanggung jawab
menetapkan prosedur-prosedur untuk melakukan penghitungan fisik yang akurat dan
untuk melakukan penghitungan dan pencatatan secara aktual. Auditor bertanggung
jawab mengevaluasi dan mengamati setiap prosedur fisik klien dan menarik
kesimpulan mengenai kecukupan dari persediaan fisik.
Seandainya persediaan yang alam kegiatan
sehari-hari perusahaan berada di gudang umum atau para penyimpan pihak luar
lainnya, maka konfirmasi tertulis dari penyimpanan tersebut dapat diterima
dengan syarat bahwa apabila jumlah yang terkandung menunjukkan proporsi yang
signifikan dari aktiva lancar atau keseluruhan aktiva tetap,
keterangan-keterangan tambahan harus dibuat untuk meyakinkan auditor independen
mengenai tindak kejujuran dalam situasi tersebut.
b. Penetapan Harga dan Kompilasi
Pengendalian intern yang penting adalah penggunaan sistem
biaya standar yang menunjukkan setiap varians dalam biaya bahan, tenaga kerja,
dan overhead pabrik dan dapat digunakan untuk mengevaluasi produksi. Pengendalian
intern kompilasi dibutuhkan untuk memberikan sarana guna memastikan bahwa
perhitungan fisik telah diikhtisarkan sebagaimana mestinya, ditetapkan harganya
dengan jumlah yang sama dengan catatan satuannya, adanya perkalian dan
penjumlahan yang benar, dan dimasukkan ke dalam buku besar dengan jumlah yang
tepat. Dalam membahas prosedur penetapan harga dan kompilasi, tujuan spesifik
terhadap pengujian rincian saldo juga sangat bernanfaat. Tujuan-tujuan tersebut
antara lain:
Kelayakan secara menyeluruh yaitu saldo persediaan, rincian
yang terdapat dalam daftar persediaan dan saldo-saldo perhitungan yang
berhubungan adalah layak.
Tujuan khusus yaitu berkaitan dengan asersi penilaian
dan pengalokasian, keberadaan dan keterjadian, serta kelengkapan.
Dalam melaksanakan pengujian atas
penetapan harga, ada 3 hal yang sangat penting mengenai metode penetapan harga
klien, yaitu: metode tersebut harus sesuai dengan PABU, penerapan metode
tersebut harus konsisten dari tahun ke tahun, dan harga pokok pengganti
(replacement cost) dibanding dengan nilai pasar harus dipertimbangkan. Jenis
persediaan pokok yang termasuk dalam kategori ini adalah bahan baku, suku
cadang yang dibeli, dan perlengkapan. Pertimbangan pertama yaitu pada metode penilaian
persediaan yang digunakan apakah FIFO atau LIFO, rata-rata tertimbang atau yang
lain. Selain itu, juga menyelidiki apakah ongkos angkut, penyimpanan, potongan,
dan lainnya juga termasuk dalam nilai persediaan.
Dalam menetapkan harga barang dalam proses
dan barang jadi, auditor harus memperhatikan biaya bahan baku, tenaga kerja,
dan biaya overhead pabrik. Hal ini menyebabkan pelaksanaan audit atas barang
yang diproduksi sendiri lebih rumit dibandingkan dengan audit atas persediaan
dari pembelian.
7. PROSEDUR PEMERIKSAAN FISIK PERSEDIAAN
Memperoleh pemahaman atas bisnis
klien bahkan lebih penting untuk persedian dibandingkan untuk kelayakan aspek
audit karena persediaan bervariasi sangat signifikan untuk perusahaan yang
berbeda. Pemahaman yang baik mengenai bisnis klien dan industrinya memungkinkan
auditor menanyakan dan membahas masalah semacam penilaian persediaan, potensi
keusangan, dan adanya persediaan konsinyasi yang bercampur baur dengan
persediaa milik sendiri. Titik awal yang berguna untuk lebih mengenal
persediaan klien yaitu auditor melakukan pemeriksaan ke fasilitas milik klien
termasuk bagian penerimaan, bagian penyimpanan, produksi, perencanaan dan
pembukuan.
Sebagai bagian dari perolehan
pemahaman mengenai dampak bisnis dan industri klien pada persediaa didalam
tahap perencanaan audit, auditor tersebut harus menilai resiko bisnis klien.
Terdapat sumber yang signifikan mengenai resiko bisnis yan terkait dengan
persediaan karena adanya faktor semacam siklus produk yangpendek dan resiko keusangan,
penggunaan persediaan JIT dan teknik manajemen saluran pasokan lain,
ketergantungan pada sedikit pemasok dan penggunaan teknologi pengelolaan yang
canggih.
Setelah melakukan penilaian
resiko bisnis, auditor selanjutnya selanjutnya menetapkan salah saji yang
ditolerir, dan menilai resiko bawaan untuk persediaan. Persediaa biasanya salah
satu dari unsur paling material didala laporan keuangan untuk perusahaan
manufaktur, grosir dan eceran. Risiko bawaan seringkali dinilai relatif tinggi
tingkatannya untuk perusahaan yang persediaannya signifikan. Persediaan dapat
disimpan dibanyak lokasi, sehingga akan meningkatkan kekhawatiran tentang
keberadaan persediaan, termasuk potensi untuk kecurian. Penilaian harga
persediaan sering kali kompleks, sehingga meningkatkan risiko salah saji untuk
tujuan akurasi. Terdapat juga kekhawatiran mengenai keusangan persediaan, yang
berhubungan dengan tujuan nilai bersih yang dapat direalisasi. Dalam menilai
resiko pengendalian, auditor terutama tertarik pada pengendalian intern atas
catatan perpectual, pengendalian fisik, perhitungan persediaan dan penilaian
harga persediaan. Sifat dan luasnya pengendalian sangant bervariasi dari satu
perusahaan ke perusahaan lainnya. Catat bahwa hasil pengujian dari beberapa
siklus selain persediaan dan pergudangan juga mempengaruhi pengujian terinci
atas saldo untuk persediaan.
7.a Proses pencatatan fisik
Auditor diharuskan melaksanakan
pengujian pengamatan fisik atas persediaan sejak dikemukakanyya kecurangan yang
besar di tahun 1938 di McKesson & Robbins Company, perusahaan itu
membukukan jumlah persediaan fiktif yang signifikan. Hal ini mungkin karena
auditor tidak mengamati fisik persediaan. Hal penting dalam ketentuan SAS 1
adalah perbedaan antara pengamatan terhadap penghitungan persediaan fisik dan
tanggung jawab untuk melakukan perhitungan. Klien bertanggung jawab menyusun
prosedur yang akurat untuk pehitungan fisik persediaan, serta betul-betul
melakasanakannya dan membukukannya. Tanggung jawab auditor adalah mengevaluasi
dan mengamati prosedur fisik klien tadi dan mengambil kesimpulan mengenai
keberadaan persediaan fisik. Ketentuan pemeriksaaan fisik itu tidak dapat
diterapkan ke persediaan di dalam gudang umum. Persediaan di dalam gudang umum
atau yang dilakukan pihak luar lainnya biasanya diversifikasi melalui
konfirmasi terhadap orang terebut. Akan tetapi, jika jumlah persediaan mrupakan
bagian yang signifikan dari aktiva lancar atau total aktiva, auditor harus
menerapkan prosedur tambahan. Tambahan ini meliputi menginvestigasi kinerja
penjaga gudang, menerima laporan akuntan independen mengenai prosedur
pengendalian penjaga gudang atas barang yang di bawah tanggung jawabnyadan
mengamati persediaan fisik barang yang berada di bawah tanggung jawab penjaga
gudang, seandainya itu praktis.
Apapun metode pembukuan
persediaan klien, selalu ada perhitungan secara periodik atas persediaan fisik
yang ada. Klien mungkin melakukan perhitungan pada saat atau di sekitar tanggal
neraca, beberapa waktu sebelumnya, atau berdasarkan siklus sepanjang tahun.
Dalam hubungannya dengan perhitungan fisik persediaan, prosedur pengendalian
yang memadai mencakup petunjuk yang jelas mengenai perhitungan fisik,
verifikasi intern yang independen atas perhitungan, rekonsiliasi independen
antara hasil perhitungan dengan perhitungan dengan berkas induk
perpetual, dan pengendalian yang cukup mengenai kartu atau kertas kerja
hasil perhitungan.
Aspek penting dari pemehaman
auditor mengenai pengendalian fisik persediaan klien adalah pengendalian
menyeluruh terhadapnya dari sejak persediaan itu ada. Hal ini perlu untuk
mengevaluasi evektifitas prosedur klien, tetpi itu juga memungkinkan auditor
untuk memberikan saran yang membangun kepada klien.
Keputusan audit dalam hal
pengantan persediaan secara fisik umumnya sama dengan bidang audit lainnya:
memilih prosedur audit, menetapkan saat pelaksanaan, mentapkan besarnya sampel
dan memilih unsur yang akan diuji.
Saat pelaksanaan. Auditor
memutuskan apakah pengamatan persediaan fisik dapat dilakukan sebelum tanggan
neraca, terutama berdasarkan akurasi berkas induk persediaan perpetual. Kalau
penghitungan persediaan fisik interim diijinkan, maka auditor saat itu
mengamati dan sekaligus menguji berkas persediaan perpetual untuk transaksi
dari tanggal perhitungan hingga tanggal neraca.
Besarnya sampel. Besarnya sampel
yang diambil dalam pengamatan fisik biasanya tidak mungkin dinyatakan dalam
angka tertentu, karena penekanan dalam pengujian ini, adalah pengamatan
prosedur klien, bukannya memilih unsur tertentu untuk diuji. Cara mudah
memandang besarnya sampel dalam pengamatan persediaan fisik adalah berdasarkan
total jam kerja yang digunakan, bukan jumlah persediaan yang dihitung.
Pemilihan unsur. Pemilohan unsur
tertentu untuk diuji adalah bagian terpenting dalam keputusan audit pada
pengamatan persediaan secara fisik. Kecermatan dibutuhkan untuk mengamati
perhitungan unsur yang paling signifikan dan sampel yang mewakili jenis
persediaan tertentu, menanyakan jenis barang yang mungkin mengalami kusangan
atau rusak, dan mendiskusikan dengan manajemen alasan unuk tidak mengikutkan
barang tertentu yang material.
Tujuan audit terkait saldo yang
sama yang telah digunakan dalam bagian sebelumnya pada pengujian terinci atas
saldo memberka kerangka acuan untuk pembahasan pengujian pengamatan persdiaan
fisik. Tapi, sebelum membahas tujuan, perlu memahami beberapa komentar yang
belaku untuk semua tujuan.
Bagian terpenting dari
pengamatan persediaan yaitu menentukan apakah perhitungan persediaan secara
fisik yang dilakukan sesuai dengan instruksi klien atau tidak. Prosedur audit
pengujian terinci atas saldo yang umum dilakukan untuk pengamatan persediaan
secara fisik. Sebagai tambahan atas prosedur terinci, auditor harus menelusuri
semua bagian dimana peresediaan digudangkan untuk memastikan bahwa semua
persediaan telah dihitung dan diberi kartu yang memadai
BAB III
KESIMPULAN
Audit Persediaan adalah merupakan bagian
dari aset perusahaan yang pada umumnya nilainya cukup material dan rawan oleh
tindakan pencurian ataupun penyalahgunaan. Persediaan merupakan suatu bagian terbesar dari asset yang bisa mempengeruhi neraca dan laporan rugi laba yang perlu di
jaga keberadaannya baik dengan membuat sistem penyimpanan yang baik maupun
dengan sistem pencatatan dan penilaian sesuai dengan prinsip-prinsip
akuntansi Indonesia yang diterapkan secara konsisten. Adapun
tujuan utama pemeriksaan persediaan adalah untuk menentukan bahwa :
· Persediaan secara
fisik benar-benar ada
· Prosedur pisah
batas (cut-off) persediaan telah dilakukan dengan memuaskan
· Persediaan telah
dinilai sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PSAK) yang diterapkan
secara konsisten
· Persediaan yang
bergerak lambat (slow moving), usang, rusak, dapat diidentifikasika dengan
tepat dan dicadangkan dalam jumlah yang memadai
· Penghitungan matematis dalam daftar persediaan telah
dibuat dengan cermat.
Untuk itu diperlukan
suatu pemeriksaan yang rutin
dengan prosedur yang sudah ditetapkan. Adapun
pemeriksaan atas persediaan yang dapat diterapkan yaitu pemeriksaan di
tengah-tengah tahun dan pemeriksaan akhir tahun, hal ini tujuaannya
untuk menjamin sistem pengendalian intern atas persediaan barangd terepkan sebagaimana seharusnya. Selain itu juga
perlu adanya pengamatan atas
perhitungan barang yang dilakukan oleh pelanggan dengan berbagai persiapan
dan prosedur yang ada.
Bagian
terpenting dari pengamatan persediaan yaitu menentukan apakah perhitungan
persediaan secara fisik yang dilakukan sesuai dengan instruksi klien atau
tidak. Prosedur audit pengujian terinci atas saldo yang umum dilakukan untuk
pengamatan persediaan secara fisik. Sebagai tambahan atas prosedur terinci,
auditor harus menelusuri semua bagian dimana peresediaan digudangkan untuk
memastikan bahwa semua persediaan telah dihitung dan diberi kartu yang memadai.
DAFTAR PUSTAKA
Acconting’s
Blog.com 10.35 Am rabu 18sept2013
accountance.wordpress.com/2009/11/28/pemeriksaan-persediaan
A fine WordPress.com site 10.15 rabu
18sept2013
bunge12.wordpress.com/2012/06/04/rangkuman-audit-persediaan/html
yana-anggraini.blogspot.com/2012/09/pemeriksaan-persediaan.html
www.jtanzilco.com/main/index.php/component/.../23-audits-persediaan
0 comments:
Posting Komentar